Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Rekap pertumbuhan dan laba beberapa emiten dalam beberapa tahun terakhir

Rekap pertumbuhan dan laba beberapa emiten dalam beberapa tahun terakhir

 

Saya mencari tau berapa prosentase pertumbuhan revenue dan laba 50 emiten di BEI, yang saya coba ambil dari beberapa sektor, biar lebih terlihat sektor mana yang bagus untuk investasi dalam 5 dan 10 tahun terakhir. Saya masukkan juga ROE dan NPM sbg indikator profitabilitas emiten tsb.

Dan ini data yang saya dapatkan. 

Untuk benchmarking pertumbuhan, ROE dan NPM, saya memakai BBCA, BMRI dan BBRI sebagai patokan. Dari situ, terlihat bahwa yang bisa mengalahkan trio bank ini hanya sektor batubara, hampir dari semua segi (growth, ROE dan NPM).

Saham kapal (sayangnya hanya diwakili oleh TPMA, krn SMDR dan NELY belum keluar LK-nya), bisa mengalahkan tiga bank ini dalam segi growth, tapi tidak di ROE dan NPM. Mungkin sektor perkapalan akan menjadi tujuan investasi yang bagus lagi untuk ke depannya, melihat growth mereka belakangan ini.

Saham consumer (MYOR dan SIDO), agak melambat tumbuhnya 5 thn belakangan ini, mungkin krn daya beli yang juga melemah.

Untuk sektor yang lain (misal property, konstruksi, CPO, poultry) , kelihatan sekali melemahnya dalam 10 thn ke belakang. 

Data di bawah belum lengkap, krn belum semua emiten mengeluarkan LK desember 2023.

Ini saya sdh mengerjakan sebaik yang saya bisa lakukan, dan tetap saja masih banyak kekurangan yang masih bisa disempurnakan lagi.

Tapi dengan data yang ada, masih inline dengan tesis awal investasi long term yang saya anut, sesuai dengan omongan LKH, bahwa di Indonesia ini bisnis terbaik adalah perbankan dan batubara, makanya ngga heran orang terkaya di Indonesia kebanyakan adalah pemilik bank dan tambang batubara.

Disclaimer ON. 

Dari sini juga mungkin masih bisa terlihat, sektor mana yang masih undervalued krn kenaikan labanya, dibandingkan dengan harganya di thn 2018 (apalagi bila PER saat ini masih di bawah 5 atau pbv masih di bawah 1).

Ketika saya kursus saham dulu, tahun 2008, ada senior yang menanyakan, bila kita invest saham, beli saham yang mana?

A. Sedang bagus bisnisnya

B. Akan bagus bisnisnya

C. Pernah bagus bisnisnya

Mayoritas ketika itu menjawab yang akan bagus bisnisnya. Ternyata salah.

Menurut beliau, sebagai investor saham, sebaiknya kita hanya invest di bisnis yang sedang bagus, karena di sini kemungkinan berhasilnya jg besar.

Bila di bisnis yang akan bagus, bisa aja nanti ngga kejadian, alias tetap jelek.

Bila di bisnis yang pernah bagus, bisa aja nanti memang ngga akan pernah pulih.

Dan data di bawah ini bisa memberikan sedikit informasi bisnis mana yang sedang bagus di indonesia, setidaknya dalam 5 thn dan 10 thn terakhir ini.

Nanti akan saya upload ulang lagi bila datanya sdh komplit.






Semoga data yang sedikit ini bisa bermanfaat dalam menentukan portofolio saham investasi kita. 

Sekedar berbagi tips, utk invest long term, saya mengutamakan saham2 dengan ROE di atas 15%, low debt, rajin bagi deviden, tidak ada rugi sama sekali dalam 10 tahun terakhir, dan NPM sebaiknya di atas 10%, biar lebih kuat menghadapi badai ekonomi.

Kalo ada saham yang msh undervalued tapi tidak memenuhi kriteria di atas, saya beli hanya utk kejar capital gainnya aja (bukan untuk invest long term).

Maafkan kalo tulisannya acak2an, karena tadinya hanya untuk konsumsi sendiri (dan saya masih tipikal orang yang apa2 lbh seneng baca buku daripada gadget). tapi lama2 mikir, kok sayang kalo ngga di-share, jadi ini dibantu anak saya utk share di blog..

Semoga hasil investasi kita akan semakin bagus di tahun2 mendatang. Aamiin..

Warm regards,

V3




ADRO, saham coal dgn growth bagus yang masih undervalued..

 Liat LK Q4/2023 ADRO, saya merasa saham ini masih sangat undervalued.

Harga sekarang = Rp 2670.

Kas/share = Rp 1604

Nett value/share = Rp 2118

BVS = Rp 3281

debt/share = Rp 717 (hanya utang berbunga saja)

CFO/share = Rp 558,6

EBIT/share = Rp 1044

EPS = Rp 795

Di harga sekarang, PBV = 0,82 ; EV/EBIT = 1,71 ; EV/CFO = 3,2 ; PER = 3,36


Saya liat lagi growth laba 2013 - 2023 ADRO = 1154 % (di mana laba PTBA hanya tumbuh 239%, dan ITMG tumbuh 174%).

Growth laba 2018 - 2023 ADRO = 314% (di mana laba PTBA hanya tumbuh 22,88% dan ITMG tumbuh 106%).


ROE ADRO :

2013 = 8,55%

2018 = 11,44%

2023 = 24,24%


NPM ADRO 

2013 = 6,98%

2018 = 13,2%

2023 = 28,5%


Dengan PBV ADRO yang baru 0,82x sementara PTBA sudah 1,6x dan ITMG sudah 1,1x , sepertinya memang ADRO masih undervalued.

Apa karena PTBA dan ITMG memiliki DPR yang lebih besar daripada ADRO, sehingga market lebih menyukainya? Time will tell.

Yang jelas, ADRO merupakan salah satu saham coal yang rajin bagi deviden selama 15 tahun terakhir ini, dan seingat saya DPR-nya tidak pernah kurang dr 30%. Jadi ADRO bs dijadikan salah satu alternatif investasi di saham coal yang PBV-nya masih di bawah 1, dengan growth laba yang sangat bagus..

Disclaimer On.

Semoga investasi saham kita akan memberikan hasil yang bagus nanti ke depannya.. Aamiin..


Warm regards,

V3

 


Chart atau Devidend Yield?

 Tulisan ini saya buat based on pengalaman pribadi saya sendiri. Beberapa kali saya beli PTBA dan BSSR di harga yg mahal (karena akan bagi deviden gede), dan stelahnya turun dalam. Tapi saya tetap hold. Akhirnya harganya bisa naik lg juga, apalagi kalo sdh mau bagi deviden lagi... 

Dari pengalaman itu saya mengambil kesimpulan, kalo utk beli saham deviden dan hold lama, mungkin berapa besar Deviden Yield (DY) yang akan kita dapat, akan lebih berpengaruh ke hasil investasi kita drpd fokus ke chart.

Karena, biasanya saham2 deviden ini mengalami peak menjelang cum date deviden, dan stelahnya akan dibanting. Jadi kalo kita beli di harga peak, kita akan dapat deviden lebih cepat (ngga usah nunggu lama2). Tapi kalo belinya di harga bawah, umumnya stelah deviden dibagikan, sehingga kita harus menunggu lebih lama untuk dapat deviden selanjutnya..

Jadi, untuk tipe investor yang tiap bulan masih top up dana untuk beli saham, bila fokusnya adalah mengejar balik modal dari deviden secepatnya, menurut saya, akan lebih baik bila fokusnya adalah membeli saham yang kira2 bisa memberikan DY yang besar, sampai setahun ke depan, daripada sekedar fokus dengan chart saham. 

Ada seorang investor yg sudah senior, dan dia membeli ITMG di harga Rp 17000, tahun 2017. Setelah dia beli, ITMG turun hingga ke Rp 6000-an di thn 2020, tapi dia tetap hold. Bahkan hingga sekarang pun dia masih hold. 

Total deviden yang sdh dia dapat sejak beli di 2017 hingga akhir 2023 ini = Rp 26.958.

Harga ITMG sekarang = Rp 25500.

Bayangkan jika dia menjual ITMG-nya ketika turun sampai 6000 di thn 2020, yang ada dia hanya akan mengalami loss yang besar. Tapi karena dia sdh niat untuk invest long term demi deviden, skrg dia bisa mendapat banyak dr deviden, dan juga portonya sdh menghijau lagi.

Hikmah yang saya dapatkan dari kejadian ini adalah : bila kita sdh niat untuk investasi long term di saham deviden tinggi yang msh ada prospek growth ke depannya, sebaiknya jangan pernah cut loss bila harganya turun dalam, apalagi bila penurunannya krn memang kondisi market keseluruhan yang sedang bearish, bukan hanya karena kinerjanya sendiri yang memburuk. 

Ini bukan ajakan untuk membeli ITMG skrg ya, walaupun ITMG di harga sekarang ini termasuk menarik untuk dibeli menurut saya. 

Sekarang, krn fokus saya adalah mengumpulkan saham deviden sebanyak-banyaknya utk pasif income di masa tua saya, jadi saya akan lebih fokus ke devidend yield drpd ke chart, untuk membeli saham2 deviden. Tujuannya agar saya bisa cepat balik modal dr deviden saham yang saya beli.

Saat ini saham PTBA saya di portfolio mengalami floating loss sekitar 16% (awal beli di oktober 2021 dan masih top up beli sampai sekarang). Tapi saya sdh dapat deviden total 61% dari modal beli saya, sejak beli hingga saat ini. Seingat saya, PTBA belum pernah saya jual 1 lot pun sejak saya beli. 

Target saya di saham ini, bisa balik modal dari devidennya saja dalam 5 thn hold, dan tahun2 sesudahnya bisa memberikan saya DY minimal 25% setiap thn dari harga beli saya.. 

Apakah akan tercapai? We'll see. Kita cm bisa berusaha, Tuhan yang menentukan hasilnya.

Tahun 2023 memang tahun yang sangat membosankan buat mayoritas investor saham. Harga saham kalo ngga turun ya pd sideways sepanjang tahun. Tapi tahun ini juga memberikan pencerahan ke saya, bahwa bila fokus kita adalah mengumpulkan saham deviden, ngga usah terlalu fokus dengan chart. Beli saja saham2 yang bs memberikan DY tinggi, sehingga bs balik modal cepat dr devidennya saja... :) 

Tulisan ini sebagai penutup tulisan terakhir di tahun 2023. Semoga thn 2024, bursa akan lebih berbunga-bunga, setelah fed rates turun. Semoga kinerja emiten2 yang kita pegang juga akan membaik di thn2 ke depan. Semoga kita jg akan semakin sabar dalam berinvestasi, terutama sabar dalam memegang saham2 yang prospeknya bagus ke depannya, krn investasi saham butuh waktu yang lama untuk memberikan hasil yang bagus.. 

Terakhir, semoga apa yang saya tulis di sini jg bs memberikan banyak manfaat utk yang membacanya, ngga cuma untuk saya pribadi.

Selamat thn baru 2024, semoga thn 2024 akan banyak memberikan kebaikan, kebahagiaan, kesehatan dan kesuksesan kepada kita semua. Aamiin..


Warm regards,

V3




IHSG turun terus, what should we do? mostly about PTBA

 IHSG kemarin closing di 6752,211. YTD sdh turun 1,44%. 

Kemarin sempat bikin low di angka cantik 6666,410. Semoga bisa menjadi lowest untuk IHSG di thn 2023 ini.. aamiin..

Saya dari awal thn ini sdh mulai ngisi portfolio dengan banyak saham coal lagi.

Ada ITMG dr harga Rp 22000- Rp 23000, dan sdh dpt deviden Rp 2394 (nett after tax).

Ada BSSR di Rp 4000-an dan sudah dapat deviden total Rp 622 (nett after tax).

Ada PTBA dari Rp 3050 - Rp 3800 (dan sdh dpt deviden nett after tax Rp 984,65).

Ini semua saham yang memang saya beli dan saya simpan untuk devidend income.

Setelah ex date deviden, saya ada menambah lagi PTBA, dan sampai sekarang masih posisi floating loss.

Panik ngga melihat harga saham yang sekarang turun terus? Mungkin saya udah termasuk kebal ya. Kalo ada uang, masih nambah saham. Kalo ngga ada uang, saya tutup olt aja, ga mau buka2 lagi. Nanti aja bukanya kalo saham2 udah pada naik.. 

Saya ngga mau emosi saya terganggu oleh market, karena kita ngga cuma pengen menambah kekayaan, tapi juga pengen hidup sehat. 

Untuk apa beli saham dan kemudian jadi ngga bisa tidur nyenyak karena terganggu sama portfolio yang merah?

Beberapa hari ini saya banyak terima email, wa dan telfon yang menanyakan ttg market. Saya cm bilang, badai pasti berlalu. Market udah brp kali turun seperti ini dan pd akhirnya akan naik lagi, begitu juga dengan saham2 kita, kalo kita beli saham yang benar atau timing yang benar. 

Saya ditanya, apa mau pegang saham coal utk long term. Saya bilang, saya mau, tapi coal yang terbukti ada growthnya jg dr thn ke tahun. Dan di sini, saya pegang PTBA dan BSSR. ITMG saya hanya pegang sedikit, krn cashnya yang banyak saat ini.. Mungkin mindset investasi di saham coal yang harus dibenahi menurut saya. 

Kalo cuma patokannya harga beli, ya kalo kita beli PTBA misalnya di harga Rp 3500 thn 2021 awal, dan sekarang turun ke 2500, sepertinya rugi. 

Tapi kalau kita melihat devidennya, PTBA yang kita beli di thn 2021, sdh dpt deviden total Rp 1782,57 (before tax), alias modal beli kita setara dengan Rp 1717,43.

Tapi yang beli PTBA di Rp 2500 sekarang ini, modal belinya ya cuma Rp 2500 aja..  

Jadi kalo dibandingkan dengan deviden yang sdh kita terima, ya menurut saya masih menguntungkan yang beli PTBA di Rp 3500 thn 2021 drpd yang beli di Rp 2500 sekarang ini..

Kok cuma beli saham coal aja thn ini? Kalo untuk deviden, iya. Saya hanya beli saham coal aja thn ini. Saya mau beli BMRI dan BBRI juga utk invest long term, tapi menurut chart, sekarang belum waktunya untuk membeli BMRI dan BBRI.. Jadi nikmati saja harga diskon yang sedang diberikan market saat ini ke kita.. Semua ada momentnya nanti.

Laba coal anjlok thn ini (sehingga deviden thn depan akan turun), sdh saya sadari sejak awal saya beli saham coal lg di thn ini. Karena 2020 harga coal dibanting, 2021 mulai pulih, 2022 naik tinggi akibat perang ukraina-rusia dan under supply, sehingga 2023 ini pasti akan nyari support terbarunya. Jadi menurut saya, saham coal di thn ini nanti akan sama seperti kita beli saham coal di 2020, walaupun mungkin besaran diskonnya tidak sebesar 2020 kemarin.. Tapi buat saya yang mencari DY 15-20%/thn dr PTBA/BSSR untuk thn2 ke depan, sepertinya ini lah saatnya utk masuk lagi.. 

Saya ngga pinter menganalisa market, saya cuma pakai hitungan sederhana ala emak2 plus baca chart ala kadarnya, dan saya sadar, saya dibantu oleh waktu untuk bisa mencapai hasil investasi yang bagus.. Saya pakai patokan, dalam waktu 5 thn hold, bisa balik modal dari devidennya aja utk saham2 coal yang saya beli. Andaikan terjadi lebih cepat, ya anggap aja bonus.. 

Ngga takut ya dengan isu coal sunset dsb? So far akal sehat saya mengatakan, ngga akan sunset secepatnya. Bahkan dari data bauran energi nasional ESDM thn 2021 aja, menunjukkan kebutuhan coal di thn 2021 sekitar 77,7 MTOE dan di 2050 meningkat menjadi 250 MTOE.  Jadi walaupun secara prosentase bauran energi, prosentase coal turun dari 37% menjadi 25%, tapi secara kuantitas, jumlahnya meningkat hampir 3x lipat di 2050 nanti..  Silakan data dicari sendiri di internet ya.. :))

Lagipula, untuk pindah ke EBT, dibutuhkan biaya yang tinggi. Dan yang punya cash banyak siapa lagi selain perusahaan2 energi fossil ini (coal dan migas)....

So, utk deviden income, saya memasukkan coal sbg salah satu sumber saham deviden saya. Ada juga HEXA dan MPMX, yang sdh saya beli dr thn 2020 dan 2021. 

MPMX saya beli thn 2020, dan sekarang sudah balik modal semua dr deviden. Beli average 400, sekarang harganya Rp 1000. Dalam waktu 3 thn hold. Udah saya diemin aja, krn sdh jadi saham gratis.

HEXA saya beli thn 2021, di harga Rp 3500, sudah dpt deviden Rp 2725. Dengan deviden thn depan, insyaa Allah HEXA saya jg sdh jd saham gratis.

Sekarang tinggal PTBA dan BSSR yang sedang dalam proses menuju saham gratis juga. 

Sekarang, di harga PTBA Rp 2500, menurut saya ini sdh harga yang very undervalued, baik secara chart maupun valuasi.

Logika sederhana, di 2020, lowest PTBA = Rp 1385, dengan EPS = Rp 207.

Tahun 2023, eps annualized PTBA = Rp 430. Tapi harga PTBA sekarang Rp 2500. Kalau linier, harusnya lowest PTBA thn ini = 2 x Rp 1385 = Rp 2770. Jadi saya anggap, harga PTBA di bawah Rp 2770 thn ini, adalah harga yang very undervalued, baik secara TA maupun FA.

Dengan LK Q3/2023, PTBA di Rp 2500 setara dengan PER annualized = 5,53 ; PBV = 1,5, dengan estimasi DY sbb :

bila DPR 50% ===> Dy = 9,04%

bila  DPR 70% ===> Dy = 12,65%

bila DPR 80% ===> Dy = 14,46%

bila DPR 90% ===> Dy = 16,27%

bila DPR 100% lagi ===> DY = 18,08%

dan ini semua adalah estimasi DY thn depan, di saat laba PTBA lagi anjlok parah. Bagaimana nanti kalo labanya naik thn depan? Ya sdh pasti DY-nya akan lebih besar lagi..

Ngga perlu dengan hitungan rumit, bahkan dengan hitungan sederhana pun kita bisa memilih sebaiknya saham apa yang kita beli untuk mengejar deviden..

Bisa ngga PTBA turun lagi? ya bisa aja. Lha wong saya waktu thn 2020 pernah beli ptba di Rp 2000 dan ngga lama lgsg turun ke Rp 1385.. Dalamnya penurunan ngga bs kita prediksi, tapi bagaimana reaksi kita menghadapi penurunan saham, sepenuhnya adalah dalam kendali kita. Dan buat saya, kalo market lg turun dalam, saya selalu nambah beli ketika ada cash. Belinya juga lgsg haka aja di harga saat itu, krn males ngeliatin harga saham terus pdhl lg pada anjlok, kasian mental saya nanti.. :)) Dan ngga mau buka OLT kalo ga ada cash. 

Dalam masa bearish seperti ini, saya ngga pernah berani CL dan pegang cash. Saya lebih baik tetap pegang saham bagus aja, switching bila perlu, dr saham jelek ke saham bagus. Dan menjaga mental dengan ngga buka2 olt. Nanti begitu market berbalik, naiknya jg cepat. Jangan sampai begitu market berbalik arah, kita ngga ada barang dan akhirnya malah harus beli di harga yang lebih mahal drpd harga kita waktu CL...

Oya, beberapa saham trading saya seperti JKON, LPPF, ARCI, ASGR, masih saya hold smua. JKON dan LPPF minusnya sdh di atas 15%. Saya tetap hold karena ketika saya beli, patokan saya adalah chart monthly mereka yang sdh di bawah. Jadi untuk jualnya pun saya akan tunggu sampai chart monthly-nya sudah naik ke atas.. :))

Semoga apa yang saya tulis bisa memberikan pencerahan di saat mental lagi down karena saham2 turun dalam.. :) Aamiin..

Semoga semua saham investasi kita akan memberikan hasil yang bagus ke depannya..  Aamiin.. 


Warm Regards,

V3




Menghitung sendiri dana pensiun kita

 Setelah menikah dan punya anak, saya baru belajar financial planning atau perencanaan keuangan. Dan sama seperti belajar investasi saham, saya merasa, dengan semakin dini kita belajar financial planning, maka akan semakin baik juga untuk kesejahteraan hidup kita ke depannya.

Salah satu buku tentang mempersiapkan dana pensiun yang menurut saya bagus dan relatif mudah diikuti adalah buku Safir Senduk. Tapi saya juga belajar dari berbagai macam sumber lainnya.

Ada beberapa cara mempersiapkan dana pensiun, yang paling gampang, misal : siapkan dana senilai 100x atau 200x kebutuhan bulanan kita utk pensiun. 

Ada yang susah, dengan hitungan yang lbh berat dan menggunakan time value of money. 

Tapi semua metode tersebut untuk saya (waktu itu, di saat pertama kali saya mulai membuat financial planning), menghasilkan angka dana pensiun yang sangat besar... Sepertinya susah untuk diikuti , dan membuat saya jadi kurang termotivasi untuk merencanakan dana pensiun sendiri..

Akhirnya saya mencoba untuk membuat sendiri perhitungan dana pensiun ala saya.. 

Waktu itu, saya memakai asumsi, dari dana saya di saham, 10% akan saya ambil setiap thn untuk biaya pensiun. Dan portfolio saya di saham harus tumbuh minimal dengan CAGR 25%/thn, karena tiap tahun saya juga masih menambahkan dana ke portfolio saham. Asumsi inflasi  10%/thn.

Waktu awal, karena suami saya masih punya masa bekerja selama 24 tahun, saya buat plan untuk bisa pensiun dini dari pasif income di saham dalam waktu 15 thn ke depan.

Contoh perhitungan saya kurang lebih seperti ini (saya bawa ke nilai sekarang, dan dengan timeframe hanya 10 thn ke depan).

Misal biaya hidup dengan 2 anak, setidaknya Rp 20juta per bulan, dan budget investasi minimal 5 jt per bulan. Jadi setiap bulan saya butuh biaya hidup + budget investasi = Rp 25 juta, alias Rp 300juta/thn.

Rp 300jt/thn, misalnya saya ambil 10% setiap thn untuk biaya hidup, artinya saya harus punya portfolio saham sebesar 100/10 x Rp 300jt = Rp 3 Milyar.

Rp 3 Milyar = nilai 2023. Bila saya menargetkan pensiun 10 thn lagi, maka nilai Rp 3 Milyar = setara dengan Rp 7,78 Milyar di thn 2033 (bisa dengan menggunakan kalkulator CAGR, atau menggunakan rumus Future Value, dengan time = 10 years, dan rate = 10%).

Dengan return investasi 25% per thn, maka dana Rp 7,78 Milyar thn 2033 ini setara dengan Rp 835 juta saat ini (thn 2023) --- dengan menggunakan kalkulator CAGR atau Present value of money dgn time = 10 years, dan rate = 25%).

Bila saat ini kita sudah punya portfolio saham senilai Rp 835juta, maka bisa dianggap posisi dana pensiun kita untuk 10 thn ke depan dengan plan seperti di atas, sudah aman. Dan setiap uang yang kita investasikan lagi setiap tahunnya hingga menjelang pensiun, akan menjadi bonus bagi dana pensiun kita (alias kita bisa pensiun lbh sejahtera daripada yang kita rencanakan sebelumnya). Asumsinya, setiap tahun dana ini kita review, apakah sudah berkembang 25% dari nilai setahun sebelumnya. Bila belum sampai 25%, tambahkan lagi dananya. Bila sudah, artinya program pensiun kita semakin aman. 

Untuk patokan perhitungan, saya selalu memakai harga perolehan (harga beli), bukan market value, krn harga perolehan lebih bisa jadi pegangan buat saya. Dengan patokan harga perolehan, akan lebih jelas, berapa posisi portofolio kita dalam Rupiah di thn ini , thn sebelumnya, atau tahun ke depannya.. 


Bagaimana bila kita belum punya uang sebesar Rp 835 juta saat ini? Anggap saja saat ini uang kita baru ada Rp 100 juta. 

Berarti kita harus membuat plan untuk menambah dana investasi setiap thn, yang minimal sejumlah tertentu. 


Kita bisa menggunakan kalkulator anuitas untuk itu. Masukkan principal amount (dana awal yang kita miliki) = Rp 100jt, period (month) = 120, annual interest rate = 25% yang dicompound annually juga, maka didapat top up dana kita tiap thn harus sejumlah minimal Rp 192jt (lebih kurang tiap bulan nambah Rp 16jt). 


Mungkin bagi yang belum pernah belajar tentang time value of money, cara ini membingungkan. Jadi saran saya, coba kalian beli buku tentang Perencanaan Dana Pensiun, biar dapat gambaran yang lebih luas. 

Saya ngga bisa membahas lebih banyak tentang ini, karena memang perencanaan dana pensiun ini sangat customized, karena kondisi finansial tiap orang berbeda.. Bisa berbeda dari jumlah dana pensiun, waktu yang dibutuhkan, tingkat return patokan investasinya, dana yang sdh dimiliki saat ini, dll. Tapi percaya deh, smakin cepat kalian membuat perencanaan dana pensiun, maka hidup kalian akan semakin sejahtera nantinya, insyaa Allah..


Perencanaan pensiun sangat berhubungan dengan waktu yang tersedia. Dan dalam berinvestasi, time is our friend. 

Apakah menggunakan return 25% per thn ini dapat tercapai, bila kita menggunakan time frame waktu investasi 10 thn? Menurut saya, bisa tercapai, terutama bila kita investasi di saham2 yang growth dan tidak overvalued. Selain itu juga dibantu dengan top up dana terus ke saham setiap thn. Malah bagi saya, 25% kadang masih terlalu kecil (karena dibantu top up dana ini). Jadi saya sendiri biasanya menaruh target 30%-40% pertumbuhan dana investasi setiap tahunnya for my financial plan..

Setelah menjalani program perencanaan dana pensiun selama kurang lebih 19 thn, saya jadi tau mengapa program yang saya rancang sendiri ini bisa memberikan angka dana pensiun yang lebih kecil daripada yang saya pelajari dari buku2. Salah satu pembedanya, saya pikir karena saya berinvestasi di saham investasi yang benar2 produktif, growth, dan juga bisa menghasilkan cashflow (deviden dan capital gain), sehingga hasilnya bisa lebih optimal dibanding dananya saya masukkan ke investasi lain (misalnya : reksadana, properti, emas fisik, atau lainnya)... Selain itu, karena yang dipegang adalah saham investasi yang growth dan produktif, semakin lama kita hold, maka dana pensiun kita juga akan semakin besar, tidak habis2 walaupun kita sdh semakin tua.. 

Apalagi sekarang, masih banyak saham2 yang bisa memberikan devidend yield di atas 10%, sehingga ibaratnya, selama saham tersebut tetap growth, tanpa kita ngapa2in pun, dana kita akan tumbuh minimal 10% setiap thn, dari deviden yang kita dapatkan... 


Saya ambil contoh saham BMRI.

Anggap saham BMRI kita beli di 2 januari 2014 di harga Rp 2170 (adjusted stock split 2x, di thn 2017 dan 2023). 

Total deviden BMRI yang kita dapat selama 2014 - 2023 = Rp 1460,24 (adjusted 2x stocksplit).

Deviden awal yang kita terima dari BMRI ketika baru beli di 2014 = Rp 58,51 (adjusted 2x stocksplit), alias DY awal beli = 58,51 : 2170 = 2,7%.

Deviden terakhir yang kita terima dr BMRI di thn 2023 = Rp 529,3367. 

Deviden BMRI sdh tumbuh 804% dalam 9 tahun kita hold, sehingga DY kita pun sekarang menjadi 529,3367 : 2170 = 24,39%..

Yang hold BMRI dr thn 2014, sekarang cuma duduk diem aja ngga ngapa2in, portfolio sahamnya akan nambah 24%/thn hanya dari devidennya aja... 

Ini belum termasuk kenaikan capital gainnya. Sekarang harga BMRI Rp 5850, alias sdh ada kenaikan capital gain sebesar 169,6% dari harga beli kita..

Inilah yang saya maksud membuat program pensiun di saham yang growth , produktif dan dijual di harga yang tidak overvalued.

Contoh saham BMRI bukan berarti saya menyarankan untuk langsung beli BMRI di harga sekarang, ya. Ini hanya sekedar contoh saja.. 

Saya membuat banyak perhitungan seperti ini dengan saham2 deviden lainnya..  

Kembali ke program pembuatan dana pensiun, kita harus tetap review setiap thnnya karena bisa saja tiba2 juga biaya hidup kita naik signifikan, sehingga dibutuhkan kenaikan dalam jumlah dana pensiun yang kita butuhkan.. Jumlah dana pensiun saya pun sdh beberapa kali saya revisi, karena begitu target yg lama sdh tercapai, biasanya saya naikkan lagi targetnya ke jumlah yang lebih besar.. 

Ini saja yang bisa saya tulis mengenai perencanaan dana pensiun. Mudah-mudahan bisa memotivasi pembacanya untuk mempersiapkan program pensiun masing2, karena percayalah,  time is our best friend... Sedikit demi sedikit lama2 menjadi bukit..


Semoga saham2 dalam portfolio kita akan memberikan hasil yang bagus ke depannya nanti. Aamiin..


Warm regards,

V3



TOBA, saham coal termurah saat ini -- CL finally

 Update per 24 oktober 2023 : Saya CL TOBA karena baru sadar, laba sekarang lebih rendah daripada 2020  ... Ngga ada growth... :((((

Abaikan saja smua analisa di bawah, krn untuk perusahaan coal yang labanya lebih rendah drpd 2020, buat saya ini sdh gejala perusahaan kurang baik.. 

Saya melihat chart TOBA yang sdh di weekly dan monthly oversold, di harga Rp 280 sekarang. PBV-nya 0,4 dengan PER annualized 8,8x (data di HOTS).

Chartnya sdh turun jauh banget, selain itu secara PBV, ini murah banget ada saham coal yang PBV 0,4 di saat bisnis coal lagi pada panen cuan..

Tapi jangan harapkan deviden di sini, kejar capital gain aja. 

Kalo market sudah sadar bahwa saham TOBA ini very undervalued secara PBV, maka harganya bisa naik..

Jadi beberapa saham yang saya liat dr chart monthly-nya dan sdh masuk keranjang swing trading saya saat ini :

1. LPPF, saya beli di Rp 2460-2500. Target jual antara 3000-4000. Kalo dikasih lebih, ya bonus.. :)

2. JKON, saya beli di Rp 121 , sekarang Rp 107 :) tetap hold karena dr chartnya keliatan menarik.. :) Target jual minimal Rp 250..

3. ARCI, saya beli di Rp 348, sekarang Rp 396. Katanya ada rumor mau dibeli sama UNTR.. :). Target jual sekitar harga IPO, Rp 750, atau sesuai dengan rumor harga penjualan ARCI nanti.

4. TOBA, saya beli di 278-280. Target jual minimal di PBV 1 aja, atau sekitar Rp 500 :)

Karena ini swing trading, jadi target keluar terserah masing2 aja.. Tapi insyaa Allah dr harga beli akan lumayan nanti upsidenya. Bisa lah buat nambah2 uang jajan, insyaa Allah.. :)

Saya ada tips utk take profit dr swing trading.

Sometimes kalo misalnya tiba2 sahamnya naik tinggi, saya suka jual sedikit. Misalnya beli Rp 5jt. cuan 20% di hari itu, alias Rp 1jt. Saya suka jual sesuai dgn cuannya aja, sisanya biarin ttp di saham itu. Uangnya bs kita pakai atau untuk nambah saham lain lagi..

Semua disclaimer on ya. Rugi tanggung sendiri, karena belinya juga kita klik buy sendiri.. :)


Warm regard,

V3


LPPF dan ASGR --- CL finally

 Ada 2 saham yang saya liat menarik karena sentimen deviden dan sentimen pemilu.


1. LPPF -- di harga sekarang Rp 2460, LPPF ada potensi membagikan deviden sekitar 17% atau lebih. Patokan saya karena EPS setahun ini kurang lebih minus 18% dibanding EPS thn 2022, maka deviden thn ini juga kurleb turun 18% dibanding thn lalu. Tahun lalu LPPF membagikan deviden Rp 525, jadi estimasi deviden thn depan kurang lebih 82% x Rp 525 = Rp 430,5. 

estimasi DY LPPF thn depan = 430,5 : 2460 = 17,5%.

LPPF chart monthly, weekly dan daily jg sudah terlihat membentuk konsolidasi untuk naik.

Target dari chart yang saya liat : short term Rp 3000, mid term Rp 4000.

Harga LPPF sebelum cum date deviden 6 April 2023 = Rp 6550.

Tahun depan? we'll see.. Saya di sini hanya swing trading dengan memanfaatkan momentum deviden.. :)

LPPF ekuitasnya minus? dont worry, nanti keluar LK q3 juga ekuitasnya positif lagi kok.. :)

Based on LK q2/2023, BVS LPPF = minus Rp 70,82.

Tapi CFO/share mereka aja udah Rp 323. EPS-nya Rp 302,56.

Jadi gampang banget utk ekuitas LPPF bisa positif lagi di LK Q3, insyaa Allah.. 

Ekuitasnya minus karena LPPF banyak buyback sahamnya juga, yang terus dihancurin, jadi bisa meningkatkan nilai EPSnya juga nanti.. :)

Update per 3 november 2023 : saya CL LPPF finally karena minusnya sdh mendekati 25%, kerugian maksimal yang bisa saya tanggung di satu saham trading. Saya switch semua LPPF ke PTBA, yang jg lg dibanting. Ya, dlm trading, sometimes we win, sometimes we lose... And life goes on.  


2. ASGR

Ini mungkin saham grup astra yang cash/sharenya paling banyak saat ini, Rp 813/lembar, dan harganya sekarang Rp 930, berdasarkan market cap-nya. Dan kemarin mereka cum date deviden interim Rp 13/share. Kita liat nanti di LK Q3, berapa kas/share mereka..

Yang menarik, biasanya laba ASGR ikut terkerek sentimen pemilu, karena bisnis mereka adalah penunjang perkantoran. Dari chart monthly, ASGR sekarang juga sdh berada di support kuat monthly-nya.

Saya ngga terlalu mendalami LK-nya, tapi saya liat sdh ada growth di sales 6,6%, laba bruto growth 17%, dan laba bersih growth 113%. Tapi CFO-nya masih negatif. 

BVS-nya Rp 1284, sehingga di harga Rp 930, PBV = Rp 0,72.

PBV 0,72 dan cash-nya hampir 87% dari market cap, dan ini anak perusahaan Astra. Murah banget. Tinggal tunggu ada sentimen bagus atau growth bagus yang menghampiri saham ini, dan sepertinya sahamnya bs langsung naik tinggi. Dan selama nunggu, dia bisa kasih devidend yield skitar 4,25% di harga Rp 930 utk setahun (termasuk dengan deviden interim kemarin ini). Untuk ASGR, saya lebih menunggu bisnis data centernya beneran jadi sih.. Rumor yang saya baca ada begitu soalnya. Yang jelas, pasti dia lg ada bisnis yang mau dijajaki, kalo ngga kenapa cash-nya bs semakin gendut dr thn ke tahun dan ngga dibagikan sebagai deviden gede.. :)))) semoga aja bisa kembaran sama DCII valuasinya kalo nanti beneran jadi tuh bisnis data centernya.. :))))))


Disclaimer on. Rugi tanggung sendiri..  :) saya cuma share entry point-nya aja, exit-nya terserah masing2, mau main pendek atau panjang.. :)

Saya banyak posting saham2 capital gain, karena porto saya sekarang sdh 92% saham deviden yang belum ada niatan utk dijual sm skali. Jadi sisa 8% dana saya gunakan utk swing2 aja, lumayan bs dpt receh utk jajan.. :))

Selamat berinvestasi saham, semoga saham2 yang kita beli akan memberikan hasil yang bagus ke depannya yaaa.. Aamiin..




Warm Regard,

V3


update 18 maret 2024, finally saya CL semua di ASGR dan LPPF. Semua saya tambahkan ke PTBA lagi. Untuk devidend income, sampai saat ini saya lebih yakin dengan PTBA, krn growth plannya jelas, dan DPR jg besar, di atas 70%..  Saya CL ASGR dan LPPF sdh cukup lama, jauh sebelum thn 2023 berakhir.




ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia